Posted by: charismasuwartono on: December 18, 2009
9 Desember kemarin saya berulang tahun yang ke-30.
Sejujurnya, saya takut menghadapi ulang tahun.
Bukan.. bukan karena bertambahnya usia (yang artinya berkurang kontrak hidup saya di dunia) dan bukan juga karena saya berusia ”kepala 3” karena bagi saya age is just a number.
It simply because of trauma. Iya… trauma: 2 ulang tahun terakhir saya lewati dengan air mata mengucur sepanjang hari selama 24 jam!
Bagi saya, ulang tahun adalah moment paling special dalam 1 tahun itu. Lebih special daripada Natal, Paskah, tahun baru, valentine, dll. Karena hari itu adalah hari special khusus untuk saya. Saya sebagai centre di hari itu.
Beberapa teman sempat iseng bertanya pada saya ”what’s your wish for your birthday?” Dan jawaban saya selalu sama “I only wish there’ll be no tears on my birthday. I just want to be happy.”
Menjelang pergantian hari menuju 9 Desember, saya masuk ke kamar untuk berdoa dan bersyukur (sebenarnya juga sekalian memohon supaya besoknya saya gak sedih). Apa pun saya doakan, mulai doa Rosario, Koronka, baca Kitab Suci, bacaan doa lainnya dan pastinya saya berdoa untuk orang tua, saudara dan teman-teman saya.
Betapa saya sangat bersyukur atas kasih dan berkat yang Tuhan curahkan sepanjang hidup saya. Mengalir dan mengalir terus tiada pernah berhenti. Dalam segala suka dan duka saya, Tuhan selalu hadir dan memegang tangan saya.
_________
Dan Tuhan pegang janjiNya.
Ulang tahun saya kemarin sangat istimewa. There were no tears, not even a feeling of sadness in my heart. Saya begitu bahagia..
Tuhan memberikan kado yang sangat berharga dan istimewa: orang tua, saudara dan teman-teman yang sayang pada saya. Mulai dari telpon di tengah malam, sms, ucapan langsung, “kado” warna merah yang dikirim 1 hari sebelumnya, email dan message wall di facebook (it took me 4 days to reply all those messages. hehehe).. semuanya itu sangat berarti bagi saya. Saya terharu dan bahagia, betapa Tuhan sayang saya melalui orang-orang di sekitar saya.
Ketika mereka mengucapkan selamat, selain mengucapkan terima kasih, saya mendoakan mereka. Bahkan kadang doa yang saya ucapkan lebih panjang daripada doa mereka. Sampai ada beberapa teman yang bilang ”lho.. kenapa jadi loe yang doain gue? Kan loe yang ulang tahun”. Saya jawab, ”doa orang yang berulang tahun besar khasiatnya”. Hehehe
Entah kenapa saya ingin sekali berdoa untuk mereka satu persatu. Semoga mereka panjang umur, banyak rezeki, sukses, bahagia, sehat dan saya juga menyelipkan doa khusus yang saya tahu mereka butuhkan.
Bahkan setiap sms, email dan fb saya reply satu persatu. Saya ketik satu persatu (walaupun isinya sama, percaya deh itu hasil ketikan saya satu persatu. Saya gak copy-paste). Kenapa? Karena saat saya mengetiknya, saya benar-banar mengucapkan doa untuk mereka masing-masing.
Walaupun mungkin saya hanya tulis “All the best for you” tapi itu benar-benar saya doakan. Saya benar-benar berdoa segala yang terbaik terjadi pada diri mereka (dan keluarga mereka).
Inginnya saya juga mengucapkan doa special seturut dorongan hati atau kebutuhan dia yang saya tahu. Tapi yah karena ada sekitar 300-an messages di fb, akhirnya saya hanya tulis “All the best for you”.
Mohon maaf juga bila ada yang terlewat belum saya reply.. doa saya selalu menyertaimu o:-)
Juga karena saya sangat bahagia di hari itu, puji Tuhan.. gak ada rasa marah dan sedih atau pun sakit hati ketika ada yang lupa mengucapkan selamat ulang tahun. Padahal jika itu terjadi di tahun-tahun sebelumnya, saya bisa ngambekkkkkk :p
_________
Tuhan melengkapi kebahagiaan saya di esok harinya.
Ketika pertemuan sel doa DC (http://domuscordis.wordpress.com), saya mendapat surprise birthday cake dan doa special dari teman-teman komunitas saya.
Well.. kali ini air mata sungguh mengalir. Saya sangat terharu akan pernyataan cinta Tuhan di ulang tahun saya.
Ketika tiup lilin and make a wish… I wish all the best for DC. Semoga DC bisa menjadi rumah bagi setiap hati, khususnya orang muda Katolik.
_________
Terima kasih, Tuhan.. atas kasih dan berkat melimpah dalam hidup saya selama 30 tahun lebih ini (masa di kandungan di hitung juga donk)
Terima kasih atas orang tua, saudara, sahabat dan semua orang yang saya jumpai dalam hidup saya.
Berkatilah mereka satu persatu. Curahkanlah mereka dengan rahmat dan kasihMu yang melimpah. Berikanlah mereka kesehatan, rezeki dan suka cita dalam hidup mereka.
Dengarkanlah doa mereka, ya Tuhan dan kabulkanlah doa mereka jika itu berkenan padaMu. Amin.
Tuhan memberkati!
Posted by: charismasuwartono on: November 5, 2009
S’lidiki aku, lihat hatiku
Apakah ku sungguh mengasihMu, Yesus
Kau yang maha tahu dan menilai hidupku
Tak ada yang tersembunyi dari Mu
T’lah kulihat kebaikanMu
Yang tak pernah habis di hidupku
Ku berjuang sampai akhirnya
Kau dapati aku tetap setia.
Yes..
Lagu itu berulang-ulang terngiang di telinga saya dan saya nyanyikan pula berulang-ulang selama 3 minggu ini. Benar-benar memberi inspirasi dan menguatkan saya.
Membuat saya berfikir ”How much do I love Jesus?”
Apakah saya hanya mengasihi Dia dikala suka dan senang saya?
Atau justru dikala saya senang, saya ”lupa” kepadaNya?
Beberapa bulan terkhir ini saya merasa hubungan saya dengan Dia lagi ”smooth”. Doa harian, misa harian, puasa, cellgroup dan hidup berkomunitas… everything went smooth and well.
1-2 bulan yang lalu saya mulai doa dan novena minta sesuatu spesifik. Awalnya semua berjalan mulus, lancar dan sesuai banget dengan keinginan saya. Saya mulai berfikir.. how great is our God, He knows what I want and He gives everything that I wanted, He loves me!!.
Sampai pada suatu hari, suatu titik.. semuanya berbalik 180 derajat. Segalanya yang pada awalnya terlihat lancar, indah dan sesuai keinginan saya mulai berbalik arah: buntu, jalan tertutup dan seolah semua hal indah yang terjadi belakangan ini langsung hancur luluh lantak.
Saya marah dan kecewa. Saya bilang ke Dia “Tuhan, kalau Kau gak ingin saya mendapat semua ini, kalau ini bukan yang Kau kehendaki supaya saya dapatkan, mengapa Kau menjadikan semuanya indah pada awalnya? Mengapa Kau seolah-olah menghendaki saya untuk memilikinya? Mengapa Kau membuat saya berharap banyak dan bermimpi indah, jika pada akhirnya justru Kau berkata “tidak” dan menghancurkan semua mimpi saya? Bukankah saya sejak awal sudah bilang kalau ini kehendakMu, tolong semuanya dilancarkan; namun bila ini bukan kehendakMu, tolong jangan berikan saya harapan semu, tutup saja langsung jalan saya menuju itu”
Down.. down.. down.. up.. down.. down.. down.. up.. down.. down.. up…
Begitulah keadaan saya 3 minggu belakangan ini.
Lebih banyak down-nya daripada up-nya. Well at least masih ada fase up lah ![]()
Belum lagi ditambah load kerjaan plus deadline yg harus dipenuhi.
Dan ada “pressure” dari luar tentang kehidupan pribadi saya.
Saya jadi sangat sensitive 3 minggu terakhir ini. Hal kecil saja bisa membuat saya tersinggung atau menangis. Suatu ”penolakan” kecil ajah bisa bikin saya kepikiran dan nangis, padahal kalo dipikir2 dengan akal sehat seharusnya itu adalah hal yang biasa ajah. Kirim SMS atau chatting ke teman dan gak dibalas bisa membuat saya ”sakit hati” dan mewek.
Ckckckck… parah banget yah?
Sebenernya saya juga cape dengan suasana hati yang seperti ini.
Saya gak suka melihat diri saya yang lemah dan sensitif dan cengeng dan rapuh dan… dan.. dan lain-lain.
Sempat saya berfikir bahwa hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup saya adalah “karma” atas semua perbuatan buruk yang pernah saya lakukan di masa lalu.
Saya gak bangga, tapi saya mengakui bahwa saya bukanlah orang yang baik. Sering saya melukai dan menyakiti orang lain melalui perkataan, perbuatan dan kesombongan saya. Bahkan kadang saya melakukan itu dengan sengaja, untuk memuaskan egoisme saya semata.
Untuk semua yang pernah saya sakiti, dengan rendah hati saya mohon maaf atas semua hal yang pernah saya lakukan. Kalau ada yg merasa kurang puas, boleh langsung menghubungi saya.. kalian boleh bertanya apa saja atau bahkan marah kepada saya.
Puji Tuhan, kemarin saya diteguhkan.. bahwa apa yang terjadi kepada saya bukanlah “karma” yang Tuhan berikan sebagai hukuman atas dosa saya.
Semua itu semata karena Dia mencintai saya. Dia ingin membentuk saya menjadi lebih indah. Rasa sakit yang saya alami sekarang untuk menghindakan saya dari rasa sakit yang lebih dahsyat lagi nantinya.
Just love me, Lord..
Love me with the way You want to love me, not the way I want You to love me.
Shower your love and blessings to me, Lord
Make me beautiful in your presence.
———————–
2 minggu lalu ketika saya mengikuti perayaan Ekaristi di hari Minggu, tiba-tiba saja lagu ”S’lidiki aku” diatas terngiang di telinga saya..
S’lidiki aku, lihat hatiku.. apakah ku sungguh mengasihiMu, Yesus?
Saya merasa tertampar sangat keras. Masa sih hanya persoalan yang ”begini” saja saya protes pada Tuhan, meragukan penyertaan dan rencana indahnya serta mempertanyakan kasih setiaNya pada saya? Membuat saya kecewa + marah dan mengurangi ”kadar” cinta saya kepadaNya?
T’lah kulihat kebaikanMu yang tak pernah habis di hidupku
Come on, Charismaaaaaa… count your blessings!!!
Lihat segala berkat Tuhan yang menyertai kamu!
Saya menyadari bahwa saya hidup berkecukupan, sehat, memiliki orang tua yang sayang saya, teman-teman yang selalu mendukung saya.. Masih kurang apa lagi?
Bersyukurlah! Focus on your blessings!
Ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia..
It’s me, oh Lord..
Dengan segala kekurangan, kerapuhan dan kelemahan yang ada pada diri saya.
Saya mau serahkan semua kepadaMu untuk kemuliaan namaMu.
Ampuni saya karena sering saya meragukan kasih setia dan penyertaanMu pada saya.
Ampuni saya yang sering bertindak dan berfikir hanya mengandalkan kekuatan dan kesombongan saya semata.
It’s me, Lord.. try me
Ujilah aku, Tuhan… dan Kau akan dapati aku tetap setia…
Dan sejak saat itu (walaupun hati ini masih ”down..down..up”), di setiap doa pasti saya selipkan kalimat ini:
Ujilah aku, Tuhan.. bentuklah aku menjadi indah seturut kehendakMu, dan aku akan tetap setia kepadaMu. Just promise me, Lord: pelihara aku, pegang tanganku dan jangan pernah lepaskan.. I love You, Jesus!
Posted by: charismasuwartono on: October 10, 2009
Satu minggu terakhir ini perasaan dan pikiran saya sedang kacau, bahkan lebih kacau daripada sebelumnya. Sedih, tertekan, stress, sensitive, terluka dan masih banyak lagi. Seolah-olah ada badai yang sedang melanda hidup saya.
Penyebabnya hanya satu. Saya tahu dan sangat sadar tentang itu. (sowrie kali ini saya belum bisa share masalahnya).
Yang paling menyebalkan adalah: saya jadi gak semangat, sedih terus, murung dan sangat sangat sangat sensitive. Sampai ibaratnya kesenggol sedikit ajah udah nangis.
Sejujurnya hal itu sangat mengganggu saya. Saya kesal terhadap diri saya yang begitu rapuh dan sensitif.
Orang-orang di sekeliling saya pun merasakan perubahan yang begitu besar pada saya. Some of them berani bertanya “something happen to you? Wanna share with me?” dan sisanya hanya melihat dari kejauhan sambil menjaga jarak dan berlaga tidak terjadi apa2.
Tadi pagi ketika saya nyetir ke kantor, saya kembali diingatkan bahwa bukan berapa besarnya kesulitan dan sakit yang sedang saya alami saat ini melainkan berapa banyaknya berkat yang sudah saya terima selama ini. Count your blessings, Charisma!! You are too blessed to be stressed.
Ketika tiba di kantor dan cek email (ehmm.. that’s my favorite morning activity at the office), saya mendapat email artikel dari Bo Sanchez berjudul “Every Storm Will End” (http://bosanchez.ph/every-storm-will-end-2/)
Berikut kutipannya:
——————————–
Friend, I’ve got a message for you today: Believe that every storm will end. And after the storm, a new morning begins.
Remember that every loss is temporary.
If you lost a loved one, that loss is temporary. In heaven, you’ll see your beloved again and your reunion will last forever.
If you lost material things or opportunities or relationships, believe that God is creating room for something better to come your way.
How will this “better” happen?
Start being grateful.
That’s not a typo.
In the midst of your loss, be thankful.
I know you’ll complain, “Bo, there’s nothing to be thankful for! I lost half my life!”
Well, be thankful for the other half that you still have.
Don’t focus on what you lost, focus on what you still have.
You’ve got too many good things happening to you to be down!
Say this with me, “I’m too blessed to be stressed.” (Not original from me. Got it from a bumper sticker.)
Why be grateful?
Because you attract what you focus on. I’ve said that before so many times, but I’ll keep saying it until God calls me home. Because it’s so powerful.
When you become grateful, you attract more of what you’re grateful for.
Gratitude is a blessings magnet.
……
The real storm is in your mind.
Do you believe that great things will happen to you?
Imagine a party balloon.
At first, it’s bright and fat and goes up to the ceiling.
But after a few days, it becomes deflated.
It stays on the floor.
We’re like balloons.
What keeps us up is hope.
But life happens, and everyday, we leak hope.
Especially when big trials come, we surely leak out a lot of hope.
And we’re deflated.
Here’s what you need to do: You need to refill your heart with hope.
So that you can rise up again.
Dispel the storms in your mind.
It may be stormy on the outside but it shouldn’t be stormy on the inside.
The only way to dispel the storms is to be grateful for what you have today and what will happen tomorrow.
God is redirecting you to something better.
Sit up straight. Out loud, say this declaration with me…
I’m strong in the Lord. I’m blessed. I’m forgiven. I’m protected. I’m redeemed. I’m equipped. I’m anointed. Healing flows in my body. New doors will open before me. I’ll meet the right people, the right opportunities, at the right time, at the right place. I’ll regain ten times what I lost…
In Jesus name!
——————
Ehm… Sebenarnya tadi saya sedang dalam proses menulis note yang udah ada di kepala saya sejak sore.
I thought I was strong enough to write this note, but when I was about to finish it I realized that I am not that strong, I’m so weak and “miserable”.
So.. daripada saya munafik, saya memilih untuk mengutip tulisan dari blog Bo Sanchez diatas.
Satu hal yang saya percaya, saat ini saya sedang dibentuk (lagi).
Jesus loves me more than I ever imagine.
Thanks buat teman2 yang udah give me “hugs” (+ comment) di fb and shoulders to cry on, I need it badly right now.
Especially buat Yulie yang ditengah deadline dan kesibukannya rela jemput pulang kantor, gave her shoulder for me to cry on and shared Gelare ice cream ![]()
Juga buat Angel yang kurang dari 5 menit peka bahwa “something’s wrong with her friend” dan rela terlewati beberapa busway demi menghibur saya di halte busway. hehehehe
Pastinya buat “tante” Rini Marini yang sesorean tadi gak kerja demi ngocehin saya
Saya gak boleh stress dan sedih lagi.
Because I am too blessed to be stressed!
GOD bless you all…
Posted by: charismasuwartono on: September 28, 2009
Kemarin ada suatu hal yang mengganjal dalam hati saya.
Sore itu saya pergi sendiri untuk misa pk.16.30 dengan perasaan yang gak karuan. Ditambah lagi saat baru mau keluar dari rumah, tiba2 kunci stang mobil gak bisa dibuka, keluar rumah cari ojek gak ada yg keliatan.. terpaksa jalan sedikit ke pangkalan dan untungnya ada tukang ojek lagi nganggur. Sampai di gereja, langsung duduk di spot favorit saya: baris ke-3 di depan Tabernakel ^_^
Selama +/- 20 menit sebelum misa, saya berlutut di hadapan Tabernakel dengan hati yang panas dan kacau. Gak ngomong apa2, gak doa apa2.. hanya menatap Tabernakel dengan pikiran kosong. Tanpa disadari air mata turun perlahan (udah cukup lama juga gak nangis di hadapan Dia).
Misa dimulai dan mengalir begitu saja sampai selesai. Mata ini bolak-balik bergantian menatap Tabernakel – Salib – Tabernakel – Salib.. terus menerus..
Seusai misa, sambil menunggu untuk dijemput, saya berjalan santai ke Alfamart dekat gereja dan tanpa pikir panjang membeli ice cream Conello rasa almond. Sambil ngantri di kasir, saya mulai membuka bungkusnya dan mulai makan ice cream itu..
Perlahan-lahan rasa dingin ice cream mulai meliputi hati saya yang panas dan rasa manisnya mulai meresapi hati saya yang kacau. Dengan penuh kenikmatan, saya gigit ice cream itu, mengecapnya di lidah, merasakannya mengalir masuk ke tenggorokan dan berlabuh di hati saya..
Kembali saya teringat diri saya beberapa tahun yang lalu dan membandingkan dengan diri saya sekarang ini.
Betapa ceria dan gembiranya saya dulu. Hidup gak ada beban, pikiran lepas, hati ringan.
Betapa mudahnya saya dulu memberikan maaf, segera melupakan kejadian pahit dan menyembuhkan luka di hati. Betapa ”kebal”nya hati saya terhadap hal2 yang menyakitkan.
Sering dulu saya bebeda pendapat dengan mami saya.
Mami menganggap saya ”gampangan” dalam arti saya begitu mudah memaafkan dan melupakan kejadian yang kurang menyenangkan atau menyakiti saya.
Sementara saya menganggap mami saya suka ”menyimpan sampah” karena segala hal yang kurang menyenangkan (bahkan setiap detailnya) akan selalu diingat dan di-rewind terus dalam memorynya.
Hehehe.. mungkin itu hanya perbedaan karakter kami
Akhir-akhir ini saya mulai merasa semakin mirip dengan mami saya (hehehe.. peace, mam).
Begitu mudahnya saya terluka, bahkan oleh kejadian yang sangat sederhana. Betapa sulitnya saya untuk mengampuni orang2 yang menyakiti hati saya (bahkan ada suatu masa… saya tidak bisa berdoa Bapa Kami pada bagian “ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”). Dan begitu mudahnya saya recall memori pahit yang saya alami dan semua luka2 batin saya… every detail of it!!!
Yang paling parah dari semuanya itu, saya jadi takut sakit.
Saya lebih memilih untuk mundur dan melindungi diri daripada maju dan (kemungkinan) disakiti. Takut ambil risiko untuk membiarkan orang lain masuk dalam kehidupan dan hati saya daripada kemungkinan untuk menjadi ”lebih hidup”. Saya lebih cenderung tertutup dan menunggu. Pasif daripada proaktif. Tidak berani meminta karena takut untuk ditolak (oh yessss.. akhir2 ini saya sangat takut ditolak!!!).
Hey… it’s not Charisma that I know.
Is it the new Charisma?
God.. I miss the old Charisma.
Charisma yang “hidup”, bahagia, ceria, tanpa beban, optimis…
Sambil menikmati ice cream sedikit demi sedikit, saya kembali diingatkan oleh kata2 teman saya setahun yang lalu.
Ketika itu dia berusaha menghibur dan mengangkat saya dari segala kepahitan dan luka di hati. Dia merupakan salah seorang yang paling giat membangkitkan semangat dan rasa percaya diri saya (juga kepercayaan diri saya terhadap orang lain).
Salah satu kata2nya yang saya ingat: ”Cha, kamu mungkin pernah terluka dan sakit. Tapi kamu harus ingat 1 hal: kamu tidak boleh menimpakan luka dan sakit kamu ke orang lain yang masuk ke dalam hidup kamu dan tidak tahu apa2 tentang luka kamu itu.”
Well.. Here I am, Lord.
With all my pain and wound.
Saya mau mempersembahkan semuanya kepadaMu, Yesus.
Dan saya mau Kau menyembuhkan saya.
Saya ingin menjadi Charisma yang dulu.. penuh keceriaan, optimis, hati yang damai dan penuh maaf. Charisma yang berani mencoba dan tidak takut terluka. Charisma yang lebih terbuka untuk menerima kasihMu dan membagikan kasihMu pada sesama.
I love You, Jesus.
Dan ketika ice cream itu habis..
Hanya rasa manis dan sejuk yang tertinggal di hati saya.
Memang, ice cream adalah obat yang paling mujarab untuk hati yang terluka ^_^
Jakarta, 28 September 2009.
Posted by: charismasuwartono on: June 7, 2009
God: Grace. You want her back?
Bruce: No. I want her to be happy, no matter what that means. I want her to find someone who will treat her with all the love she deserved from me. I want her to meet someone who will see her always as I do now, through Your eyes.
God: Now THAT’S a prayer.
Bruce Almighty (2003)
http://en.wikipedia.org/wiki/Bruce_Almighty
———————————————–
That’s also my prayer for you…
Posted by: charismasuwartono on: February 5, 2009
Hari ini adalah adalah anniversary bokap n nyokap gue yg ke-30 J
Bersyukur pada Tuhan yang telah memberkati keluarga gue.
30 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah pernikahan.
30 tahun juga gak selalu dilalui dengan hal-hal manis dan indah.
30 tahun dilalui juga dengan jatuh-bangun dan jalan yang berliku dan penuh kerikil.
Puji Tuhan bahwa keluarga gue (terutama kedua orang tua gue) bisa melalui semua itu bersama.
———————–
Bokap n nyokap gue bukan berasal dari keluarga berada, mereka berasal dari keluarga besar (masing-masing 8 bersaudara) yang sederhana. Kebetulan mereka semasa kecilnya pernah “dititipkan” kepada keluarga lainnya alias gak diasuh oleh orang tua mereka. Hal ini menimbulkan luka batin dalam diri mereka yang (untungya) membuat mereka bertekad bahwa dalam keadaan apa pun juga, keluarga harus tetap bersatu dan jangan sampai “menitipkan” anak kepada orang lain.
Bokap 7 tahun lebih tua daripada nyokap. Tahun 1977, mereka bertemu di PMKRI pada saat perploncoan (walaupun bokap gue gak lulus kuliah karena gak ada biaya dan nyokap gue bahkan gak kuliah sama sekali karena alasan yang sama :p). Tentunya bokap gue adalah sang senior dan nyokap gue adalah si anak baru. FYI, bokap adalah pacar pertama nyokap dan nyokap adalah pacar kesekian belas atau bahkan keduapuluhsekian dari bokap gue. Hahahaha..
4 Februari 1979, mereka menikah di Gereja St.Yosef Matraman. Sebuah pesta pernikahan sederhana yang dibiayai oleh mereka sendiri. 10 bulan kemudian, lahirlah gue yang langsung dibawa pulang ke rumah pertama kami yang merupakan rumah kontrakan di gang sempit dan berdinding ½ tembok ½ gedek.
Pelan-pelan perekonomian keluarga gue mulai membaik. Tahun 1983, bokap n nyokap membeli sebidang tanah di Pondok Bambu dan membangun rumah diatasnya, yang sampai sekarang menjadi tempat tinggal kami sekeluarga.
——————
28 Desember 2008 kemarin entah karena alasan apa, Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) meminta keluarga kami untuk sharing pada misa. Bingung juga yah apa yang hendak kami sharingkan. Kebetulan hari itu ada pembacaan surat gembala dari Bapak Kardinal yang salah satu isinya tentang PHK yang melanda warga Jakarta dan tantangan hidup orang di saat krisis. Setelah kami berdiskusi dengan romo pembimbing kami, kami pun sepakat sharing tentang perjuangan keluarga pada saat ekonomi sulit. Bagaimana keluarga kami menghadapi pergumulan dan tantangan hidup.
Sekalian ajah yah gue cerita dikit tentang sharing kami saat itu (mumpung moment-nya lagi pas.. hehehe).
Sharing dimulai oleh bokap gue. Kalimat pertama bokap gue adalah “Saya pernah di-PHK 2 kali”. PHK pertama gue masih terlalu kecil untuk mengingatnya. Namun PHK ke-2, gue ingat. Saat itu gue masih TK. Setiap pulang sekolah, bokap n nyokap jemput gue dan kami naik mobil box berkeliling Jakarta (kadang sampai Tangerang dan Bekasi) untuk berjualan. Makan siang, tidur dan belajar gue lakukan di dalam mobil. Bahkan gue belajar membaca pun di mobil itu. Setiap kami melewati billboard, bokap akan memperlambat jalannya mobil sehingga gue bisa membaca tulisan di billboard itu
Saat itu pula nyokap menerima pesanan kue bolu di rumah. Nyokap yang pada dasarnya gak bisa bikin kue, jadi mahir membuat kue. Dari pagi sampai pagi lagi bikin kue. Prinsip mereka saat itu “gak ada yang gak bisa dilakukan untuk mendapatkan uang (yang halal)”.
Suatu saat keluarga kami “diingatkan” bahwa kami udah lama meninggalkan Tuhan. Mulailah kami rajin ke gereja dan berdoa.
Tuhan membuka jalan. Bokap mendapatkan pekerjaan dan nyokap juga dapat kerjaan ^__^
Sharing dilanjutkan oleh nyokap gue. Nyokap bercerita tentang keterbukaan keluarga kami dan sikap saling percaya.
Gue kagum terhadap kesepakatan bokap n nyokap dalam mengelola uang. Bokap menyerahkan seluruh keuangan keluarga kepada nyokap unuk dikelola. Gue masih ingat, setiap akhir bulan ketika bokap gajian, nyokap langsung memisahkan uang ke dalam amplop yang masing2 bertuliskan “Listrik, air, dll”, “Uang sekolah Ch”, “Belanja” dan lain sebagainya… dan masih ada pos untuk tabungan. Gue juga masih ingat setiap malam nyokap mencatat pengeluaran harian dalam sebuah buku. Bokap gue gak pernah sekali pun bertanya kemana uang itu pergi dan mengecek buku pengeluaran nyokap. Bokap gue percaya 100% pada nyokap gue.
Nyokap gue berprinsip “beli yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan”.
Kami hidup hemat dan sederhana. Anehnya walaupun kami hidup dengan sederhana, kami masih bisa berlibur bersama (secara sederhana) setiap tahun dan mempunyai beberapa “investasi”. Hehehe.
Oiya.. gue salut banget dengan kemampuan bokap-nyokap mengelola keuangan. Kalo bole jujur.. income gue saat ini lebih besar daripada income bokap gue terakhir sebelum pensiun. Hebatnya.. dengan income yang “hanya segitu” bisa membiayai satu keluarga dengan baik dan masih bisa “bersenang-senang”. Gue pikir2 dengan income gue sekarang… halaaaghhhh… kemana larinya duit gue yaaaa? Hehehehe.
Gue kebagian sharing terakhir.
Saat diskusi di hari sebelumnya, Romo memberikan ide untuk sharing gue, yaitu bagaimana gue sebagai anak muda bisa menghadapi godaan zaman. Halagh… gue sampe pusing mikirinnya :p kemudian gue sharing ini:
Sejak dulu keluarga kami sangat terbuka satu sama lain. Gue tau berapa penghasilan bokap gue, untuk apa saja pengeluarannya dan berapa amountnya. Dari situ gue bisa berfikir apakah reasonable jika gue meminta sesuatu pada mereka. Gue ingat saat gue SMP, lagi musim roller-blade. Hampir semua teman gue punya dan bermain roller-blade. Gue hanya duduk di pinggir menonton mereka main. Nyokap n bokap gue suatu saat bertanya “kamu koq gak minta dibeliin roller blade seperti punya temen2 kamu?”. Saat itu gue jawab “gak mau, mi.. takut jatuh”. Padahal alasan gue yang sesungguhnya adalah gue gak mau memberatkan orang tua gue dengan roller blade yg mahal itu. kalo gue bilang gue ingin punya roller blade, pasti mereka akan berusaha untuk membelikannya. Gue tau banget harga sebuah roller blade saat itu cukup material bagi keluarga gue.
Sejak kecil orang tua gue membiasakan untuk menabung. Angpao dan uang hadiah ultah gak pernah gue pakai. Semuanya gue tabung. Jika tabungan gue mencapai jumlah tertentu, gue “menitipkan” ke nyokap gue untuk dimasukkan ke deposito.
Tahun 2000, gue merasakan betul keuntungan menabung. Saat itu keluarga kami dalam keadaan BU alias butuh uang. Menghabiskan seluruh tabungan kami, bahkan tabungan yang gue “titipkan” ke nyokap gue dengan rela gue berikan.
Untungnya saat itu gue masih ada tabungan di rekening bank gue yang jumlahnya cukup untuk bayar kuliah dan kebutuhan gue lainnya selama 1 semester, karena bokap-nyokap gak kasih gue uang sama sekali. Cukup berat saat itu yaaaa… gak inget gimana caranya gue bisa melalui 1 semester itu. Puji Tuhan, Dia selalu memelihara kami.
Tahun 2006 lalu bokap gue pensiun. Sudah waktunya beristirahat dan menikmati masa tuanya.
Puji Tuhan, kami sampai sekarang gak kekurangan, walaupun tetap hidup sederhana.
Kami bisa usaha parsel dan jualan snack (kalo ada yang mo pesen, silakaaaaaannn…) dan bokap gue bisa menjalankan hobbynya dalam bidang kesehatan.
Selama 30 tahun pernikahan bokap n nyokap gak selamanya mulus dan manis. Pernah koq mengalami badai topan, dengan berbagai alasan dan latar belakang. Bokap gue bukan orang yang sempuna dan nyokap gue juga bukan orang yang tanpa cacat. Puji Tuhan, Ia selalu hadir di tengah keluarga kami dengan cinta dan kasihNya, sehingga keluarga kami tetap bersatu dan utuh, saling melengkapi dan mengisi satu sama lain.
Terima kasih, Tuhan atas keluarga ini.
Terima kasih untuk para saudara dan teman2 yang selalu membantu dan mendukung keluarga kami.
Terima kasih mami dan papi, atas cinta dan pengorbanan yang kalian berikan untuk keluarga ini.
I love you..
Tuhan memberkati.
Posted by: charismasuwartono on: January 25, 2009
Udah lama banget gue berfikir dan merenung.
Apa sih yang sebenarnya gue cari? Apa sih sebenarnya keinginan gue? What is exactly my passion?
Gue sadar bahwa gue bukanlah orang yang memiliki banyak talenta atau sebuah talenta yang menonjol, bahkan gue berfikir bahwa gue gak punya talenta apa pun.. (ampuni aku, Tuhan.. orang yang tidak tahu terima kasih). Gue juga sadar bahwa gue selama ini tidak mempunyai sesuatu yang amat gue inginkan, yang sangat ingin gue lakukan.
Membosankan sekali yah hidup gue? Kasiaaaaannn deh gue :p Hehehe.
Oktober 2008 kemarin ketika gue ikut retret DC dan ditanya “What is your passion?”.. gue gak bisa menjawabnya. Bahkan mungkin itu pertama kalinya gue berpikir tentang passion gue.
Ada beberapa orang yang sharing tentang passion-nya dan jalan yang dia tempuh untuk mencapainya. Ada yang di bidang fotografi, musik, pencipta lagu dan sebagainya. Dan ada juga yang rela meninggalkan comfort zone atau pekerjaan yang sekarang dilakukan (catatan: menghasilkan uang yang banyak) untuk mencapai passionnya.
Kalo loe dengerin Hardrock fm.. Renee Suhardono (sowrie kalo gue salah tulis namanya) sering juga tanya “What is your passion?” dan beliau sering menyarankan atau mendorong pendengarnya untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion-nya itu.
Gue ada sharing dengan seorang teman tentang passion. Kebetulan dia sangat tau apa passionnya dan dia sedang jalan untuk mencapainya. Tapi itu juga agak tidak menolong gue (hehehe). Karena gue menganggap dia mempunya talenta yang sangat besar di bidang itu. Gak heran kalo dia tau apa passion-nya dan bisa membulatkan tekad untuk mencapainya. Lagian juga dia gak happy dengan pekerjaannya saat itu, walaupun pekerjaannya itu menghasilkan uang cukup banyak. Sempat dia sharing dan menghitung berapa income dia saat itu dan berapa income dia nanti jika dia banting setir. Hmmm.. jumlah yang sangat signifikan! Walaupun demikian, dia mau meninggalkan pekerjaannya dan mengejar passionnya. Anyway.. gue sangat percaya dia pasti bisa dan yakin dia sukses
Waktu Sakramen Tobat, gue bilang ke romonya salah satu dosa gue adalah gue gak tau apa talenta gue dan apa passion gue. Gue merasa seperti orang yang gak bersyukur bahwa Tuhan kasih gue talenta tapi gue gak menyadarinya dan gak mensyukurinya. Gue merasa seperti hamba yang diberikan talenta oleh tuannya dan ketika tuannya pergi ia hanya menguburkan talenta itu ke dalam tanah dan tidak mengembangkannya (Mat 25:14-30). Tapi gue bener2 gak tau apa talenta gue… apa passion gue..
Beliau menyarankan gue untuk lebih terbuka terhadap suara hati dan memohon rahmat Tuhan untuk mengetahui apa talenta dan passion gue. Susah ya?
Pernah ko Riko tanya gue “Char, loe biasa pelayanan apa? Atau loe mau melayani di bidang apa?”. Gue sempat bengong dan gak bisa menjawab pertanyaannya. Gue hanya menjawab “Anything will do, Ko”. Bukan karena gue maruk ingin mengambil atau mencoba semua bidang. Bukan juga gue sombong merasa gue bisa melakukan semuanya. Tapi gue bener2 gak tau harus jawab apa.
Tadi sore pas sel doa, pertanyaan sharingnya juga sama “apa yang kamu cari?”
Beberapa teman gue sharing tentang pekerjaan di kantornya. Ada yang mengeluh bahwa dia terlalu cape dan merasa tanggung jawabnya begitu berat, sementara dia gak ambisi untuk mengejar karier. Ada juga yang sharing tentang kelelahannya bekerja, tapi setelah diskusi.. ternyata dia sangat menyukai pekerjaannya. Hehehe.. ternyata hanya lelah dan jenuh ya?
Gue jadi mikir.. waktu gue di EY dulu.. gue sangat lelah dan jenuh.. tapi sebenernya gue menyukai pekerjaan itu dan (ehm) kinda enjoy the job :p
Sekarang pun kalo dirasa2, gue sangat jenuh dan merasa pekerjaan gue monoton. Yang perlu gue cari tau adalah apakah gue enjoy di kerjaan gue sekarang. (pak BW.. kalo Bapak baca note ini, jangan diambil hati yaaaa… hehehehe ada head HRD nih di fb gue :p)
Well… saat ini yang bisa gue lakukan adalah berdoa memohon rahmat Tuhan dan lebih membuka hati terhadap Dia.
Semoga gue bisa menemukan apa talenta gue dan mencapai passion gue.
Wish me luck, friends..
Btw kalo loe ada yang lihat apa talenta gue.. please let me know, gue dengan senang hati mendengarnya ^_^
GBU
Posted by: charismasuwartono on: December 31, 2008
2008 bukanlah tahun yang mudah bagi gue.
Salah satu tahun terberat dan penuh perjuangan, namun juga tahun yang paling memberikan gue banyak pelajaran dan mengalami cinta Tuhan.
Tahun ini gue alami dengan perasaan yang “up & down”.
Di satu sisi, gue marah dan kecewa pada Tuhan, namun di sisi lain gue merasa gue gak berdaya di hadapan Dia dan gue semakin cinta padaNya.
Di sini gue merasa lebih disentuh, dibentuk dan semakin dekat dengan DIA.
Gue memulai 2008 bukan dengan perasaan optimis.
Di awal tahun ini pula gue mencapai titik terendah dalam hidup gue. Merasa gak berdaya, gak berguna, gak berharga..
I lost something I love and care the most, dengan cara yang gak pernah terpikir oleh gue sama sekali. Gue terluka, sakit dan remuk redam.
Namun anehnya disaat seperti itu, justru gue mendapat penghiburan, dikuatkan dan mengalami kasihNYA secara lebih.
1H08…
Di saat gue down dan merasa gak berharga, ternyata DIA sudah menyediakan seseorang untuk menghibur gue.
Someone who can make me laugh (maybe because HE knew at that time I really need to laugh),
seseorang yang selalu menemani gue setiap saat (sampai gue merasa “sesak nafas” karena gue gak bisa bergerak bebas)
dan selalu ada disaat gue membutuhkannya (kadang gue merasa “invalid” jika bersama dia, karena dia menyediakan apa pun yg gue butuhkan),
seseorang yang memuja dan membangkitkan percaya diri gue.
Tapi gue gak merasa comfortable bersama dia (I’m sorry..)
2H08…
Ketika gue mulai bisa berpikir jernih dan tertawa serta mentertawakan diri gue sendiri, DIA memberikan gue seseorang yang lain.
Orang yang menguatkan dan membuka pikiran gue.
Orang itu bisa membuat gue berfikir, membuat gue bertanya-tanya, membuat gue merasa nyaman, membuat gue semakin mengenal & dekat dengan Yesus melalui cerita dan pengalamannya, menjawab segala pertanyaan yang ada di kepala gue, menyadarkan gue akan kesombongan gue, membangunkan gue dari “mati suri” gue…
Orang itu bisa membuat gue tertawa dan melihat hidup dengan cara yang berbeda…
End 2008…
I’m back to “normal” (kecuali pada masa2 menjelang ujian CFA :p)
Mungkin karena DIA melihat gue semakin kuat dan bisa berdiri sendiri…
DIA mengambil orang itu dari gue…
Mungkin untuk memberikannya ke orang lain yang lebih membutuhkannya..
Mungkin karena DIA gak ingin melihat gue tergantung pada orang itu dan DIA ingin mempersiapkan gue menghadapi tahun-tahun ke depan yang (pastinya) akan lebih berat dan banyak tantangan (ehm..)
Apa pun alasannya.. gue bener2 bersyukur bahwa DIA memberi gue kesempatan mengenal orang itu
Di tahun 2008 ini, gue banyak bertemu dan kenal dengan orang2 baru.
Orang2 dengan latar belakang dan pengalaman berbeda, dengan sifat yang unik dan dengan karakter pribadi masing2.
Gue banyak belajar dari pengalaman hidup mereka, dari pandangan dan cara berfikir mereka.
Melalui orang2 itulah gue mendapatkan hampir semua jawaban atas pertanyaan2 yang selama ini ada di kepala gue.
Mengenai hubungan dengan Tuhan dan gereja, iman, hubungan dengan sesama dan lain2. Sampe kadang2 gue terpesona, betapa cepatnya jawaban yang gue terima.
I really thank GOD that HE answers my questions
Ehmmmm… di tahun 2008 ini pula gue “menuai” segala sesuatu yang pernah gue tabur di masa lalu (terutama hal2 buruk).
Kejadian2 kurang menyenangkan di tahun ini miriiiiiiipppppppp banget dengan perbuatan kurang menyenangkan yg gue lakukan ke orang lain di masa lalu. Setiap kali gue mengalami kejadian kurang menyenangkan, setiap kali itulah otak gue “flash-back” hal serupa yang pernah gue lakukan ke orang lain.
Bahkan sempat gue berkata pada DIA.. kalau emang DIA mau gue menuai atas apa yang pernah gue tabur, biarlah gue tuai semuanya di tahun ini supaya gue bisa “menebus” kesalahan dan dosa gue terhadap orang lain.
Gue bersyukur banget bahwa gue diberi kesempatan untuk menuai saat ini. Dengan demikian gue tau gimana perasaan orang lain pada saat gue memperlakukan mereka dengan buruk dan bisa membuat gue lebih menahan diri serta memperlakukan orang lain dengan lebih baik (Amiiiiiiinnnnnn).
Gue bersyukur atas 2008 ini.
Di tahun ini gue bisa kembali ke “jalur” yang benar :p
Awal tahun 2008 gue mulai berkomitmen utk KTM (yang kenal gue dari masih kuliah pasti bingung deh kalo gue join KTM… padahal dulu gue anti dan alergi KTM.. hehehe). Walaupun gue sempet “cuti” 5 bulan karena jadwal sel bentrok dengan kursus gue
tapi gue tetep merasakan persaudaraan yang kental di KTM ini.
Thanks banget buat anak2 wilayah 3, khususnya sel Maria2.
3Q08 gue juga mulai komitmen utk DC… keluarga baru gue, semoga gue bisa memberikan banyak untuk karya2 DC (mohon petunjuknya.. hehehe).
Oiya… gue suka banget ama retretnya DC. bahkan saat Kak Rika membawakan “Original Solitude”, gue bener2 terinspirasi tentang “don’t be afraid to be alone”. Hehehe
Satu hal yang gue tegaskan ke diri gue sendiri (dan semoga tetap ada dalam diri gue)…
gue ikut komunitas sebagai sarana untuk melayani Tuhan. Jangan pikirkan siapa yang ada di dalam komunitas itu, jangan cemaskan gesekan2 yang akan terjadi, jangan menjadi beban tugas2 dan pelayanan2 yang akan gue lakukan.. lakukan semua itu dengan kasih dan untuk kemuliaan Tuhan.
Ad Maiorem Dei Gloriam!!!
Terima kasih, Tuhan atas berkat, anugrah dan kasih yang melimpah dalam hidupku…
I love you, Jesus…
Posted by: charismasuwartono on: December 21, 2008
When God takes something from your grasp, He’s not punishing you, but merely opening your hands to receive something better.
Sebenernya kalimat diatas itu udah pernah gw baca beberapa bulan yang lalu. Tapi baru kemarin malam “kena” banget ke gw.. lagi pas ajah timing-nya kali ya?
Dalam hidup, sering gw mengalami dilemma, dihadapkan pada pilihan.
Antara YA atau TIDAK, antara A atau B, antara MAJU, DIAM atau MUNDUR.
Sering kali dalam menentukan pilihan tersebut gw bertanya kepada Tuhan..
Apa sih kehendak Dia. Jalan mana yang harus gw tempuh? Pilihan mana yg terbaik buat gw?
Dalam memilih, tentunya gw melalui proses..
Baik itu proses rohani, yaitu dengan doa dan discernment (ehm… :p)
dan proses duniawi, yaitu mempelajari, menyelidiki dan mengenali pilihan itu sendiri.
Seiring dengan proses itu berjalan,
seringkali dalam pikiran gw, udah ada “jawaban” atas pilihan mana yang akan gw ambil,
udah ada kecenderungan dalam diri untuk menempuh jalan yang mana yang akan gw lalui,
udah ada “feeling” terhadap sebagian proses itu dan merasa “tahu” pasti terhadap pilihan gw..
Ketika gw doa dan sungguh2 meminta jawaban,
sering gue merasa bahwa jawaban yang Dia berikan gak sesuai dengan apa yang gw inginkan,
gak sesuai dengan “feeling” yang gue rasakan selama proses itu.
Sebagai manusia, gw merasa kecewa dan sedih..
Kenapa sih Tuhan gak memberi apa yg gw inginkan?
Kenapa sih Tuhan itu gak demen ngeliat gw seneng?
Kenapa sih Tuhan susah bener diajak ngerti tentang perasaan dan keinginan gw?
Proses gw itu udah smooth banget.
Feeling gw itu udah “so good” bener.
Kenapa sih Dia gak ngeliat betapa baiknya proses itu dan membiarkan gw senang dengan pilihan yang terlihat baik dan indah bagi gw?
Kembali lagi gw mengalami dilemma.. dilemma yang lebih besar.
Karena gw udah merasakan dan membayangkan indahnya pilihan gw,
tapi ternyata jawaban yang Tuhan kasih ke gw adalah yang sebaliknya..
dan gw harus patuh + mengikuti jawaban yang Dia berikan itu
Mungkin awalnya sedih
Kecewa itu sudah pasti
Menyakitkan.. gak salah lagi
Namun gw yakin bahwa dibalik itu semua Dia telah menyediakan yang lebih baik, bahkan yang terbaik untuk gw.
Gw jadi inget awal tahun ini ketika gw merasa kecewa dengan jawaban Tuhan…
Andry, my very best friend sms gw “When you lose something, believe that the Lord has something better to offer. Always remember: you’re more important than what you lose or ask for”
Dan ketika kemarin gw mengalami kejadian serupa..
disaat gw udah 75% yakin akan pilihan gw..
disaat gw merasa bahwa gw udah menggenggam kebahagiaan gw,
Tuhan kasih gw jawaban yang berbeda. He said “NO, that’s not the one I want you to have. I have something better for you.”
Sempat gw kecewa, marah dan terluka
Sempat pula gw mikir “salah gw apa yah koq Dia kasih jawaban yang kurang mengenakan bagi gw?”
Sekali lagi Dia menegaskan gw dengan kalimat ini:
“When God takes something from your grasp, He’s not punishing you, but merely opening your hands to receive something better”
Posted by: charismasuwartono on: December 21, 2008
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!